Aku adalah anak desa, aku adalah anak yang suka bermain dengan lingkunganku, aku selalu mengenal semua alam. Apa saja aku ketahui tentang desaku ini. Namun pada suatu hari aku sedang bermain dengan teman-teman sebayaku, mereka bernama anton, wawan dan santo dan aku Iwan. Kami berempat ini adalah sahabat sejati. Mereka selalu bermain denganku dan tidak pernah berbohong, karena orang tua kami selalu mengajarkan bahwa dengan selalu berbuat baik dan tidak berbohong maka semuanya akan baik-baik saja.

 Setiap hari aku membantu ibu dan ayah untuk bekerja, karena aku tidak ingin mereka bekerja sendiri untuk menghidupi keluarga serta adik-adikku. Yah inilah kehidupanku dimasa kecil, harus bekerja membanting tulang untuk keluarga, karena hanya merekalah hartaku. Aku saat ini sedang duduk di kelas dua sekolah dasar. Setiap hari aku pergi ke sekolah dengan pakaian bekas yang kusut dan kusam. Namun aku tak pernah mengeluh, aku bersyukur bisa sekolah dan mengenyam pendidikan yang layak. Terkadang ayah sering kali terbebani dengan sekolahku, karena harus membeli buku dan keperluan sekolah lainnya. Ayah tak pernah menyerah untuk menyekolahkan aku, agar aku bisa menjadi orang sukses yang bisa membanggakan mereka.

 Pagi ini aku mulai bangun pagi dan membereskan rumah. Ibu dan ayah sudah bangun sejak pagi tadi untuk membuat sarapan untukku dan adik. Ibu menggoreng ubi dan keladi dari kebun. Ibu segera berangkat ke kebun dan ayah sudah berangkat kerja. Aku pun bergegas untuk pergi sekolah setelah sarapan usai, sementara adik menjaga rumah. Di sekolah aku selalu di ejek karena memiliki baju yang kusam dan sepatuku sudah mulai sobek dan sudah tua. Aku terkadang merasa malu dan terpojok karena ejekan teman-temanku. Namun sahabat-sahabatku selalu mendukungku dan tidak membiarkan aku di ejek oleh teman-teman yang lain. Mereka selalu bisa membantuku dan melindungiku.

 Kami berempat belajar dengan giat dan bersungguh-sungguh. Semua pelajaran kami cermati dan kami pelajari dengan baik agar mendapatkan nilai yang bagus. Sekolah ini tak akan kami sia-siakan sepanjang hidup kami. Akhirnya sekolah pun usai, aku dan ketiga sahabatku segera pulang ke rumah. Namun kami sudah janjian nanti sore akan belajar kelompok untuk mengerjakan tugas matematika yang diberikan oleh guru kami. Diantara kami berempat, santo adalah anak yang sangat pandai dalam hal berhitung. Dia selalu mengajari kami jika kami tidak memahami pelajaran ini. Sore pun tiba dan teman-temanku sudah berkumpul di rumahku. Kami mulai belajar dan mengerjakan tugas matematika kami. Sungguh pelajaran ini sangat sulit untukku, namun aku berusaha untuk memahaminya agar aku mendapatkan nilai yang baik. Waah, akhirnya sudah mau malam, semua tugas kami sudah selesai dikerjakan dan teman-temanku harus pulang ke rumah mereka masing-masing.

 Saat malam tiba, akhirnya ibu dan ayah pulang juga. Aku dan adik sudah menunggu mereka sejak tadi. Aku juga sudah menyiapkan makanan malam untuk di santap. Aku segera memanggil ayah dan ibu untuk makan malam bersama. Sungguh meskipun makan malam sangat sederhana, namun kami sangat menikmatinya dan selalu bersyukur atas apa yang sudah dberikan Tuhan untuk kami.

 Bersyukur adalah suatu berkah yang tiada hentinya untuk kami. Karena dengan bersyukur Tuhan tidak akan selalu memberikan kebahagiaan yang sangat besar dan kehidupan yang indah di akhirat nanti, itulah kehidupanku, anak desa.

By nirmala

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *